
Ilustrasi transaksi menggunakan QRIS. (Sumber foto: Sisternet)
BALIKPAPAN – Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) alami inflasi sebesar 0,15 persen (mtm) dan 0,90 persen (yoy). Penyumbang inflasi terbesar di kabupaten tersebut berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi menambahkan, hasil survei konsumen menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi meskipun sedikit melambat.
“Optimisme ini didukung oleh daya beli yang terjaga, sebagaimana tercermin dari peningkatan transaksi QRIS di Balikpapan dan PPU masing-masing sebesar 9,18 persen dan 9,22 persen pada Oktober 2024,” ungkapnya dikutip dari siaran pers yang diterima Kaltimedia.com, Jumat (6/12/2024).
Untuk mengantisipasi potensi kenaikan inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, TPID bersama Bank Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah strategis.
Di antaranya yaitu pelaksanaan high-level meeting TPID untuk merespons gejolak harga dan penguatan kerja sama antar daerah (KAD) dan pengaktifan toko penyeimbang.
Selain itu gelar pangan murah dan operasi pasar untuk menjaga ketersediaan bahan pokok. Serta gerakan tanam cabai dan hortikultura untuk meningkatkan pasokan lokal.
“Ke depan, kami akan terus bersinergi melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) agar inflasi daerah tetap dalam koridor target nasional, yaitu 2,5 persen ± 1 persen,” pungkas Robi. (pcm)





