
Samarinda, Kaltimedia.com – Pengurus Provinsi Persatuan Korfball Seluruh Indonesia (PKSI) Kalimantan Timur menunjukkan keseriusannya dalam membangun prestasi cabang olahraga korfball. Setelah resmi dilantik beberapa pekan lalu, pengurus baru langsung tancap gas dengan menyusun program pembinaan yang lebih terarah di tingkat kabupaten dan kota.
Ketua PKSI Kaltim, Charolina Laoh, mengatakan bahwa pembinaan atlet harus diperkuat sejak dini, terlebih mengingat hasil kurang memuaskan pada PON 2024 lalu di Aceh dan Sumatera Utara, di mana Kaltim belum berhasil menyumbang satu pun medali dari cabor ini.
“Di PON memang kita belum berhasil memperoleh satu medali pun. Ini menjadi PR besar bagi kami agar pembinaan ke depan bisa lebih maksimal,” ujar Charolina kepada Kaltimedia, Jumat (25/7/2025).
Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah penyelenggaraan Kejurprov Korfball Junior serta menyasar sekolah-sekolah untuk mengenalkan olahraga ini melalui program ekstrakurikuler. Langkah ini diyakini dapat menjadi media efektif untuk menjaring bibit atlet potensial dari usia dini.
Tak berhenti di situ, PKSI Kaltim juga berencana mendatangkan pelatih asing asal Belanda, negara asal olahraga korfball dan salah satu kiblat utama dalam hal pengembangan teknik serta regulasi pertandingan.
“Kami melihat masih ada beberapa regulasi pertandingan yang belum kami kuasai sepenuhnya. Saat PON kemarin, ternyata ada aturan terbaru yang tidak kami ketahui, dan itu berdampak langsung pada permainan tim. Karena itu kami ingin mendatangkan pelatih dari Belanda, agar tidak ada lagi kesalahan serupa,” ungkap Charolina.
Kehadiran pelatih internasional ini diharapkan tak hanya meningkatkan teknik bermain para atlet, tetapi juga mengedukasi pelatih dan wasit lokal agar memiliki pemahaman mutakhir tentang aturan resmi korfball dunia.
Charolina menambahkan, salah satu kendala di PON lalu adalah miskomunikasi soal pelanggaran yang seharusnya menguntungkan tim Kaltim, namun malah menjadi kerugian karena ketidaktahuan terhadap aturan terkini.
“Kalau SDM kita tidak diperbarui ilmunya, akan tertinggal. Kita ingin ke depan lebih siap, lebih paham aturan, dan bisa bersaing dengan provinsi lain,” jelasnya.
Selain pembinaan atlet, PKSI Kaltim juga menaruh perhatian pada peningkatan kualitas wasit dan pelatih melalui pelatihan dan sertifikasi internasional. Menurut Charolina, hal ini penting untuk membangun ekosistem korfball yang profesional dan berstandar tinggi di Kalimantan Timur.
Dengan program pembinaan yang lebih intensif dan berkelanjutan, serta didukung pelatih berpengalaman dari luar negeri, PKSI Kaltim optimistis bisa memperbaiki pencapaian di PON mendatang yang akan digelar di Nusa Tenggara tahun 2028.
“Semua langkah ini adalah investasi jangka panjang. Kita ingin korfball tidak sekadar hadir sebagai cabor pelengkap, tapi benar-benar bisa bersaing dan membanggakan Kaltim di kancah nasional,” pungkasnya. (Dy)
Editor: Ang



